Surabaya Darurat Rokok bagi Anak Sekolah


Jumat, 28 April 2017 11:50:26



Setidaknya itulah yang terjadi di Kota Surabaya. Melalui diseminasi hasil penelitian tentang rokok anak sekolah di kota Surabaya, Tim peneliti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga / TCSC mengadakan paparan ilmiah nya kemarin (27/5/17). Acara siang itu, mengundang beberapa stakeholder di kota Surabaya yang berkaitan dengan anak. Acara ini sendirinya merupakan kerjasama TCSC dengan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur. Materi yang disampaikan terdiri dari situasi merokok pada anak di Indonesia, Perilaku Merokok e-Cigarette dan konvensional pada anak sekolah di kota Surabaya dan Situasi iklan rokok pada sarana pendidikan di kota Surabaya.

Kurnia Dwi Artanti, dr., M.Sc memaparkan bahwa 5 dari 10 anak sekolah laki-laki pernah merokok, dan 10,7% masih menjadi perokok aktif. Persentase ini semakin membuat kita harus lebih aware dikarenakan angka perokok pemula sudah mulai tersegmentasi padausia anak sekolah SD. Dengan menggunakan desain penelitian cross sectional study Kurnia menjelaskan lagi bahwa usia mulai merokok paling banyak (26,8%) adalah usia 10 tahun, dan usia pemula mulai merokok paling muda adalah 4 tahun. Sedangkan untuk rentang usia mulai merokok berada pada usia 9 sampai 13 tahun.

Kondisi tersebut diperparah dan dimungkinkan terjadi karena terdapat hubungan dengan banyak iklan yang bertebaran disekitar lingkungan sekolah dan perumahan. Pada penelitian tersebut, tim menemukan fakta bahwa sebesar 95,8% anak pernah melihat maupun mendengar iklan rokok. Iklan rokok tersebut dilihat oleh anak SD dan SMP disekitar rumah sebesar 25,6%, berada disekitar sekolah sebesar 5% dan 47,7% anak melihatiklan rokok di perempatan jalan dan 53,4%.

Terdapat fakta lainnya yang dalam penelitian tersebut dapat dijadikan pijakan bagi para pembuat kebijakan untuk lebih berpihak pada kepentingan dan perlindungan anak. Aset bangsa ini tidak mungkin akan kita biarkan menjadi sasaran investasi industry rokok, begitu pernyataan Dr. Sri Adiningsih, dr., M.CN selaku Ketua LPA Jatim. Di lain pihak Hario Megatsari, S.KM., M.Kes salah satu anggota tim peneliti menambahkan bahwa perlu upaya yang sistematik berbasis kebijakan untuk mendorong pemerintah kota Surabaya untuk mengatur iklan rokok melalui sebuah Peraturan Walikota. Upaya ini mempermudah penanggulangan darurat rokok di kota Surabaya.

Diseminasi dan diskusi ini menarik karena diikuti olehorganisasi profesi IDI, IAKMI, Persakmi, Dinas Kesehatan Kota Surabaya, YLPK Jatim, Dinas pendidikan kota Surabaya, KepalaSekolah SD dan SMP, WITT, Bappeko Kota Surabaya ,Pihak Swasta dan stakeholder lainnya. Pada akhir acara kemudian diadakan konfrensi pers bagi awak media yang meliput. Acara ini juga diliput oleh TVRI, SBO TV dan media elektronik lokal lainnya.